SEMARANG — Mata tiba-tiba berkedut atau bergerak sendiri merupakan hal yang cukup sering dialami banyak orang. Di tengah masyarakat Jawa, fenomena tersebut sejak lama dikaitkan dengan berbagai pertanda berdasarkan Primbon Jawa.
Dalam kepercayaan Primbon Jawa, arti kedutan biasanya dibedakan berdasarkan bagian mata yang mengalami kedutan, termasuk mata kanan atau kiri serta bagian atas maupun bawah. Sebagian tafsir mengaitkannya dengan datangnya kabar, pertemuan dengan seseorang, rezeki, kesedihan, atau kejadian tertentu.
Namun, perlu dipahami bahwa tafsir tersebut merupakan bagian dari kepercayaan dan budaya masyarakat Jawa, bukan kesimpulan yang dibuktikan secara ilmiah.
Dari sisi medis, kedutan pada kelopak mata dikenal sebagai eyelid myokymia. Kondisi ini merupakan kontraksi kecil yang tidak disengaja pada otot kelopak mata dan pada umumnya bersifat sementara serta tidak berbahaya.
Sejumlah faktor dapat memicu atau memperburuk kedutan, antara lain kurang tidur, kelelahan, stres, konsumsi kafein berlebihan, mata kering, hingga ketegangan mata.
Karena itu, ketika mata berkedut, seseorang tidak perlu langsung menganggapnya sebagai pertanda buruk ataupun pertanda akan mendapatkan sesuatu. Secara medis, kondisi tersebut lebih sering berkaitan dengan keadaan tubuh dan aktivitas sehari-hari.
Istirahat yang cukup, mengurangi konsumsi kafein, mengelola stres, serta menjaga kondisi mata dapat membantu mengurangi kedutan pada kelopak mata. Pada banyak kasus, kedutan akan menghilang dengan sendirinya.
Meski umumnya tidak berbahaya, pemeriksaan medis perlu dipertimbangkan apabila kedutan berlangsung terus-menerus, mengganggu aktivitas atau penglihatan, atau disertai gejala lain seperti kelemahan, kelopak turun, penglihatan ganda, mata merah, atau perubahan penglihatan.
Dengan demikian, Primbon Jawa dapat ditempatkan sebagai bagian dari warisan budaya dan kepercayaan masyarakat, sedangkan penjelasan medis memberikan pemahaman berdasarkan mekanisme tubuh dan bukti kesehatan.
Keduanya dapat dibahas secara berdampingan, tetapi penting bagi pembaca untuk mengetahui mana yang merupakan tafsir budaya dan mana yang merupakan penjelasan medis.
Penulis : Ayu
Editor : Redaksi










